Rabu, 03 April 2013

Interaksi Jepang sebelum Pendudukan di Indonesia



KATA PENGANTAR



Dengan segala kerendahan dan keikhlasan hati, puji syukur kehadirat Allah SWT. Karena dengan rahmat dan ridha-Nya yang telah dilimpahkan, taufiq dan hidayah-Nya dan atas segala kemudahan yang telah diberikan sehingga penyusunan makalah ini dapat terselesaikan.Shalawat terbingkai salam semoga abadi terlimpahkan kepada sang pembawa risalah kebenaran yang semakin teruji kebenarannya baginda Muhammad SAW, keluarga dan sahabat-sahabat, serta para pengikutnya.
Semoga syafa’atnya selalu menyertai kehidupan ini. Setitik harapan dari penulis, semoga makalah ini dapat bermanfaat serta bisa menjadi wacana yang berguna. Penyusun menyadari keterbatasan yang penyusun miliki, untuk itu, penyusun mengharapkan dan menerima segala kritik dan saran yang membangun demi perbaikan dan penyempurnaan makalah ini . Akhirnya hanya kepada Allah SWT jualah penulis memohon Rahmat dan Ridha-Nya.

Penyusun











DAFTAR ISI




KATA PENGANTAR...................................................................................... i
DAFTAR ISI..................................................................................................... ii
BAB I    PENDAHULUAN............................................................................. 1
A.    Latar Belakang............................................................................... 1
BAB II   PEMBAHASAN................................................................................ 2
A.    Interaksi Indonesia jepang sebelum masa pendudukan Jepang..... 2
1. Sikap rakyat Indonesia pada saat kedatangan Jepang............... 3
2. Faktor yang mendorong para tokoh Nasionalis bersifat
    Koorperatif kepada Jepang........................................................ 3
B.     Kebijakan pemerintah pendudukan jepang di Indonesia............... 4
1.      Dalam Bidang Politik Pemerintahan........................................ 4
2.      Kebijakan dibidang Social dan Ekonomi................................. 5
3.      Kebijakan Pemerintah Jepang dibidang Pertanian................... 6
BAB III PENUTUP.......................................................................................... 7
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................... 7
                                                                           
                                                                             BAB I

PENDAHULUAN


Latar Belakang  


            Bulan Oktober 1941, Jenderal Hideki Tojo  menggantikan  Konoe   Fumimaro sebagai Perdana Menteri Jepang.  Sebenarnya, sampai akhir tahun 1940, pimpinan militer Jepang tidak menghendaki melawan beberapa negara sekaligus, namun sejak pertengahan tahun 1941 mereka melihat, bahwa Amerika Serikat, Inggris dan Belanda harus dihadapi sekaligus, apabila mereka ingin menguasai sumber daya alam di Asia Tenggara. Apalagi setelah Amerika melancarkan embargo minyak bumi, yang sangat mereka butuhkan, baik untuk industri di Jepang, maupun untuk keperluan perang.
            Admiral Isoroku Yamamoto, Panglima Angkatan Laut Jepang, mengembangkan strategi perang yang sangat berani, yaitu mengerahkan seluruh kekuatan armadanya untuk dua operasi besar. Seluruh potensi Angkatan Laut Jepang mencakup 6 kapal induk (pengangkut pesawat tempur), 10 kapal perang, 18 kapal penjelajah berat, 20 kapal penjelajah ringan, 4 kapal pengangkut perlengkapan, 112 kapal perusak, 65 kapal selam serta 2.274 pesawat tempur. Kekuatan pertama, yaitu 6 kapal induk, 2 kapal perang, 11 kapal perusak serta lebih dari 1.400 pesawat tempur, tanggal 7 Desember 1941, akan menyerang secara mendadak basis Armada Pasifik Amerika Serikat di Pearl Harbor di kepulauanHawaii. Sedangkan kekuatan kedua, sisa kekuatan Angkatan Laut yang mereka miliki, mendukung Angkatan Darat dalam Operasi Selatan, yaitu penyerangan atas Filipina dan Malaya/Singapura, yang akan dilanjutkan ke Jawa. Kekuatan yang dikerahkan ke Asia Tenggara adalah 11 Divisi Infantri yang didukung oleh 7 resimen tank serta 795 pesawat tempur.
                       

 BAB II
PEMBAHASAN

A.      INTERAKSI INDONESIA JEPANG SEBELUM MASA PENDUDUKAN JEPANG

            Munculnya Jepang sebagai kekuatan besar di Asia timur, dalam bidang ekonomi berpengaruh terhadap Indonesia. Perkembangan Jepang tidak dapat dilepaskan dari keberhasilan Restorasi Meiji (Modernisasi Jepang) pada akhir abad 19. Hubungan Jepang dengan Indonesia sudah ada sejak jaman kolonial Belanda. Pada akhir abad 19 belum ada orang Jepang di Indonesia, namun sejak awal abad 20 mulai masuk orang Jepang ke Indonesia, baik sebagai orang yang mencari nafkah penghidupan atau sebagai pedagang. Hubungan tersebut masih terbatas pada hubungan ekonomi.

            Sejak lama sumber kekayaan alam Indonesia (minyak, karet, bauksit, timah dan bahan lainnya) dipandang strategis bagi Jepang. Hal ini terutama sebagai akibat keberhasilan Restorasi Meiji. Negara Jepang menjadi negara industri baru yang membutuhkan berbagai sarana pendukung. Modal Jepang yang ditanamkan di Hindia Belanda pada umumnya bergerak di bidang industri pertambangan dan transportasi laut.

            Hubungan ekonomi menguntungkan kedua pihak. Jepang mengimpor gula dan minyak dari Indonesia, sedangkan Indonesia mengimpor barang konsumsi yang murah dari Jepang. Ekspor Indonesia ke Jepang periode 1918-1925 lebih besar dibanding impornya. Periode 1925-1928 perbandingan ekspor impor menjadi sama. Sejak tahun 1928 pembelian Jepang dari Indonesia menurun, sedangkan impor Indonesia dari Jepang tetap tinggi. Komoditas gula dari Formosa (koloni Jepang) saat itu memiliki kualitas yang baik dan tidak perlu mendatangkan dari Indonesia. Adapun cara memproduksi gula,Jepang belajar dari Jawa (Indonesia).

            Adanya depresi ekonomi tahun 1930 membawa dampak besar bagi Indonesia. Jepang melakukan upaya penetrasi ekonomi secara damai dan pada saat yang sama memperluas kegiatan intelijennya. Upaya ini mendapat banyak simpati rakyat Indonesia. Masyarakat menyambut gembira barang konsumsi dari Jepang yang murah dan pelayanan toko yang sopan. Pada tahun 1934, 31 % impor Indonesia berasal dari Jepang. Sebaliknya impor dari Belanda justru turun menjadi 9,5 %.

            Interaksi kedua pihak juga terjadi dalam bidang politik dan budaya serta keagamaan. Hubungan secara rahasia antara pemimpin Jepang dengan tokoh politik Indonesia  ( Soekarno, MH.Thamrin dan tokoh Islam). Dalam mewujudkan cita-cita Hakko Ichiu, Jepang mengarahkan pandangan ke Asia Timur dan Asia Tenggara.
1. Sikap Rakyat Indonesia Pada Saat Kedatangan Jepang Di Indonesia
            Pada awalnya kedatangan Jepang ke Indonesia mendapat sambutan baik oleh bangsa indonesia, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor dibawah ini :
            1.Jepang mengaku sebagai saudara tua bangsa Indonesia yang akan membebas-    
                kan bangsa Indonesia dari penjajahan
            2.Jepang menyatakan kedatangannya tidak untuk menjajah
            3.Rasa benci kepada Belanda dari rakyat dan simpati kepada Jepang
            4.Adanya propaganda Jepang utk menarik simpati rakyat Indonesia yaitu
               Gerakan Tiga A
5.Mengikut sertakan tokoh nasional dalam gerakan Jepang
2.  Faktor Yang Mendorong Para Tokoh Nasionalis Bersifat Kooperatif Kepada
     Jepang

1.Kebangkitan bangsa-bangsa Asia Timur 
2.Adanya ramalan Jayabaya yang meramalkan datangnya Orang Kate yang akan
               berkuasa di Indonesia hanya seumur jagung.
            
B.       KEBIJAKAN PEMERINTAH PENDUDUKAN JEPANG DI INDONESIA

            Pada mulanya kedatangan Jepang disambut gembira oleh bangsa Indonesia karena berusaha menarik simpati dengan cara-cara sebagai berikut:
a. Mengumandangkan propaganda antara lain kedatangan Jepang bertujuan membebaskan bangsa Indonesia dari penjajah Belanda karena Jepang merupakan “Saudara Tua” bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia oleh Jepang diajak bersama sama membentuk “Kemakmuran bersama di kawasan Asia Timur Raya (Dai Toa)”.         
b.   Menggunakan bahasa Indonesia di samping bahasa Jepang sebagai bahasa resmi.
c. Mengikut sertakan orang-orang Indonesia dalam organisasi-organisasi resmi pemerintah Jepang, misalnya dalam Gerakan 3A yang dipimpin oleh Mr.Syamsuddin.
Di samping itu juga mengangkat tokoh-tokoh nasional sebagai pemimpin Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA).
d. Menarik simpati umat Islam dengan mengizinkan organisasi Majelis Islam A’la Indonesia tetap berdiri.
e. Bendera Merah Putih boleh dikibarkan berdampingan dengan bendera Jepang Hinomaru. Begitu juga lagu Indonesia Raya boleh dinyanyikan di samping lagu kebangsaan Jepang Kimigayo.
f. Rakyat diwajibkan menyerahkan besi tua. Oleh Jepang besi tua ini dilebur dijadikan alat-alat perang.
g Semua harta peninggalan Belanda yang berupa perkebunan, pabrik maupun bank disita.

1.      Dalam bidang politik pemerintahan,
Oleh Jepang dibentuk 8 bagian pada pemerintah pusat dan bertanggung jawab pengelolaan ekonomi pada Syu (karesidenan). Pemerintahan daerah diaktifkan kembali untuk memperkuat dukungan terhadap kebutuhan ekonomi perang.
            Pada masa pendudukan Jepang terjadilah perubahan di bidang politik pemerintahan yakni adanya perubahan yang mendasar dalam sistem hukum. Dengan diberlakukannya pemerintahan militer sementara waktu dan jabatan Gubernur Jenderal dihapuskan diganti oleh tentara Jepang di Jawa guna mencegah terjadinya kekacauan. Mulai tanggal 5 Agustus 1942 berakhirlah pemerintahan yang bersifat sementara dan berlakulah pemerintah pendudukan Jepang di Indonesia. Dalam susunan pemerintah daerah di Jawa terdiri atas Syu (Karesidenan yang dipimpin oleh Syucho, Si (Kotamadya) dipimpin oleh Sicho, Ken (Kabupaten) dipimpin oleh Kencho, Gun (Kawedanan) dipimpin oleh Guncho, Son (Kecamatan) dipimpin oleh Soncho, dan Ku (Desa/Kelurahan) dipimpin oleh Kuncho.
Pada masa awal pendudukan, Jepang menyebarkan Propaganda yang menarik. Sikap awalnya menunjukkan kelunakan, misalnya:
a.       Mengizinkan Bendera merah putih di kibarkan di samping bendera Jepang.
b.      Melarang penggunaan Bahasa Belanda.
c.       Mengizinkan penggunaan Bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari.
d.      Mengizinkan menyanyikan lagu Indonesi Raya.
            Pemerintah pendudukan Jepang ikut campur tangan terhadap pangreh praja, yang sebenarnya mereka berkuasa langsung terhadap rakyat akan tetapi selalu diawasi Jepang. Oleh karena itu rakyat Indonesia dimanfaatkan untuk kepentingan Jepang. Akibat dari tindakan-tindakan Jepang tersebut maka rakyat mengalami kesulitan ekonomi. Kekurangan bahan makanan mengakibatkan rakyat kekurangan gizi dan kelaparan. Penderitaan dan kemiskinan yang dialami rakyat Indonesia terjadi di mana-mana. Dalam hal pakaian, rakyat terpaksa harus mengunakan pakaian yang terbuat dari karung goni sehingga banyak berjangkit penyakit kulit.

            2. Kebijakan dibidang social dan ekonomi
            Pada masa pendudukan Jepang terjadilah perubahan dalam bidang social ekonomi. Bentuk penyerahan padi secara paksa sangat menyengsarakan rakyat. Akibat dari bentuk penyerahan wajib ini banyak terjadi kelaparan, meningkatnya angka kematian, menurunnya tingkat kesehatan masyarakat serta keadaan sosial semakin memburuk. Angka kematian lebih tinggi dari angka kelahiran. Di Kudus angka kematian mencapai 45,0 perseribu (permil) dan di Purworejo mencapai 42,7 permil sedangkan di Wonosobo mencapai 53,7 permil. Jadi pada jaman pendudukan Jepang keadaan petani dan masyarakat pedesaan di Jawa khususnya dalam keadaan sangat menderita. Selain memeras sumber daya alam, pemerintah pendudukan Jepang juga memeras tenaga kerja manusia. Untuk menggerakan rakyat Indonesia guna membantu maka diadakanlah Romusha.

3. Kebijakan Pemerintah Jepang Dibidang Pertanian
1) Perluasan areal persawahan.
 
            Setelah menduduki Indonesia, Jepang melihat bahwa produksi beras tidak akan mampu memenuhi kebutuhan. Oleh karena itu, perlu dilakukan perluasan areal persawahan guna meningkatkan produksi beras. Meskipun demikian produksi pangan antara tahun 1941-1944 terus menurun.

2) Pengawasan pertanian dan perkebunan.
            
Pelaksanaan pertanian diawasi secara ketat dengan tujuan untuk mengendalikan harga barang, terutama beras. Hasil pertanian diatur sebagai berikut: 40% untuk petani, 30% harus dijual kepada pemerintah Jepang dengan harga yang sangat murah, dan 30% harus diserahkan ke ‘lumbung desa’. Ketentuan itu sangat merugikan petani dan yang berani melakukan pelanggaran akan dihukum berat. Badan yang menangani masalah pelanggaran disebut Kempetai (Korps Polisi Militer), suatu badan yang sangat ditakuti rakyat.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan

            Pengerahan sumber daya ekonomi untuk kepentingan perang. Untuk menguasai hasil-hasil pertanian dan kekayaan penduduk, Jepang selalu berdalih bahwa untuk kepentingan perang. Setiap penduduk harus menyerahkan kekayaannya kepada pemerintah Jepang. Rakyat harus menyerahkan barang-barang berharga (emas dan berlian), hewan, bahan makanan kepada pemerintah Jepang. Untuk memperlancar usaha usahanya, Jepang membentuk Jawa Hokokai (Kebaktian Rakyat Jawa) dan Nogyo Kumiai (Koperasi Pertanian).
                Perang Pasifik ini berpengaruh besar terhadap gerakan kemerdekaan negara-negara di Asia Timur, termasuk Indonesia. Tujuan Jepang menyerang dan menduduki Hindia-Belanda adalah untuk menguasai sumber-sumber alam, terutama minyak bumi, guna mendukung potensi perang Jepang serta mendukung industrinya. Jawa dirancang sebagai pusat penyediaan bagi seluruh operasi militer di Asia Tenggara, dan Sumatera sebagai sumber minyak utama.


DAFTAR PUSTAKA

http://handikap60.blogspot.com/2013/01/berbagai-kebijakan-pemerintah-jepang-di.html

0 komentar: